Dosen Pertanian UHO Berdayakan Masyarakat Desa Tanea Kecamatan Konda untuk Pengolahan dan Pengawetan Saus Buah Tomat

SULTRA PERDETIK,  – Harga tomat yang anjlok saat panen raya menjadi masalah serius bagi para petani Hortikultura di Desa Tanea, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan. Kerugian yang dialami petani pun cukup besar akibat situasi ini.

Namun, ada harapan baru bagi petani tersebut berkat inisiatif Dosen Pertanian dari Universitas Halu Oleo (UHO) yang tergabung dalam Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Internal Fakultas Pertanian UHO.

Dalam upaya mengatasi permasalahan ini, tim PKM yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Andi Khaeruni R., M.Si bekerja sama dengan masyarakat Desa Tanea melalui Kelompok Tani Harapan Makmur dan Kelompok Wanita Tani Berkah.

Bacaan Lainnya

Tim PKM ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui bimbingan teknis dalam pengolahan dan pengawetan saus buah tomat. Diharapkan, langkah ini dapat menyelamatkan buah tomat yang tidak dapat terjual saat musim panen raya dan juga meningkatkan nilai ekonomi komoditas tersebut.

Prof. Andi menjelaskan bahwa Desa Tanea dipilih sebagai lokasi kegiatan PKM karena petani di sana seringkali menghadapi harga tomat yang sangat murah saat panen raya. Para petani terbatas dalam pilihan, karena jika buah tomat terlambat dijual, maka buah-buah tersebut akan membusuk dan tidak bisa lagi dikonsumsi.

Oleh karena itu, diperlukan solusi yang dapat mengubah buah tomat yang tidak terjual menjadi produk bernilai ekonomis, salah satunya melalui pembuatan saus tomat dengan masa simpan yang lama. Saus tomat tersebut dapat digunakan sebagai bumbu masak untuk konsumsi sendiri, maupun dijual untuk meningkatkan nilai ekonomis komoditas tersebut.

Bimbingan teknis dalam pengolahan dan pengawetan saus tomat ini dipandu oleh Prof. Dr. Hj. Sri Wahyuni, yang mendapatkan antusiasme tinggi dari peserta, terutama ibu-ibu rumah tangga. Prof. Sri Wahyuni menjelaskan bahwa teknik pengawetan yang digunakan dalam pembuatan saus tomat ini sangat praktis dan tidak melibatkan penggunaan bahan pengawet kimia, sehingga aman untuk dikonsumsi dan dapat disimpan dalam suhu ruang selama minimal 6 bulan.

Produk saus tomat yang baik harus memiliki pH sebesar 4,5, dipanaskan pada suhu 80°C sebelum dimasukkan ke dalam botol, dan disimpan dalam wadah botol kaca untuk memastikan proses pengawetan yang sempurna.

Prof. Sri juga menekankan bahwa kelompok Wanita Tani di Desa Tanea belum sepenuhnya memahami konsep pengawetan bahan pangan yang aman bagi kesehatan, sehingga masih mengandalkan pengawet kimia. Hal ini bertentangan dengan prinsip hidup sehat yang membatasi penggunaan bahan kimia sintetik dalam produk pangan.

Prof. Andi menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan PKM ini, langkah-langkah nyata diambil untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat, khususnya kelompok Wanita Tani mitra.

Kegiatan PKM dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu penyuluhan tentang sistem pengawetan bahan pangan, bimbingan teknis pengolahan dan pengawetan saus tomat, serta diskusi dan pengisian kuis.

Antusiasme masyarakat dan aparat desa terhadap kegiatan ini sangat tinggi, dengan banyak peserta yang aktif bertanya terkait topik yang disampaikan. Harapannya, petani, terutama kelompok wanita tani, dapat memproduksi saus tomat yang meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka.

Prof. Andi berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut, dan tim dari Fakultas Pertanian UHO akan memberikan pendampingan secara berkala kepada masyarakat petani hortikultura di Desa Tanea dalam pengolahan dan pengawetan hasil panen mereka.

Dengan demikian, diharapkan dapat menghasilkan produk pangan yang sehat dan aman dikonsumsi, bebas dari bahan kimia, serta dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Kegiatan ini didanai melalui Dana DIPA Fakultas Pertanian UHO TA 2023. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *