PT Antam Ungkap Akar Masalah Kerusuhan Demonstrasi di Konawe Utara

SULTRA PERDETIK, – PT Aneka Tambang Tbk (Antam), perusahaan tambang terkemuka di Indonesia, telah mengungkapkan penyebab utama dari kerusuhan baru-baru ini dalam aksi demonstrasi oleh warga Konawe Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Senin, 5 Juni.

Kabarnya, demonstrasi tersebut dipicu oleh penghentian aktivitas yang dilakukan oleh Antam di Blok Mandiodo.

Dilansir dari Detik.com. Nicolas Kanter, Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk (Antam), menjelaskan bahwa kerusuhan tersebut terkait dengan kerja sama antara Antam dan Asosiasi Penambang Lokal Konawe Utara (APL-KU).

Bacaan Lainnya

Menurut Nicolas, APL-KU ingin mendapatkan bagian dalam kegiatan penambangan di Blok Mandiodo, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra). Namun, dia menekankan bahwa ada peraturan yang harus dipatuhi dalam setiap kerja sama.

“Kami melihat sendiri bahwa kerusuhan tersebut dilakukan oleh beberapa anggota Asosiasi Penambang Lokal Konawe Utara (APL-KU) yang ingin mendapatkan bagian.Namun, beberapa tuntutan mereka tidak mudah dipenuhi karena memerlukan persetujuan sesuai dengan peraturan yang ada,” jelasnya di Jakarta Pusat pada hari Kamis, 15 Juni 2023.

Nicolas menyatakan bahwa Antam berkomitmen untuk memberdayakan masyarakat lokal dalam kegiatan penambangan. Namun, hal ini harus dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

“Kami selalu berusaha memberdayakan masyarakat dan para penambang lokal, tetapi mereka harus mematuhi peraturan. Jika ada Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), itu harus diikuti. Jika ada wilayah yang belum diatur dengan baik, tetap harus mendapatkan persetujuan,” tambahnya.

Nicolas membantah klaim bahwa kegiatan di Blok Mandiodo telah sepenuhnya dihentikan. Dia menjelaskan bahwa ada kerja sama operasional (KSO) tertentu yang belum berjalan lancar.

“Kami tidak menghentikan secara tiba-tiba. Kami telah menunjuk KSO, tetapi mereka belum beroperasi secara normal,” jelasnya.

Seperti yang dilaporkan sebelumnya, ketegangan meningkat di Konawe Utara selama protes oleh Gerakan Rakyat Konut Menggugat, yang menuntut agar PT Antam membuka kembali aktivitas pertambangan di Blok Mandiodo dan memberdayakan pengusaha lokal. Bentrokan antara para demonstran dan aparat keamanan terjadi, meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang serius.

Sebanyak 375 personel gabungan dari Kepolisian Resor Konawe Utara, Batalyon Komando (Brimob) Polda Sultra, dan Ditsamapta Polda Sultra dikerahkan untuk mengamankan protes tersebut.

Namun, ketegangan mencapai puncak ketika sekitar 500 massa berusaha memaksa masuk ke kantor PT Antam dengan kekerasan, menyebabkan bentrokan hebat antara para demonstran dan aparat keamanan.

Dalam kejadian tersebut, tujuh personel dari Polres Konawe Utara dan BKO Brimob Polda Sultra dilaporkan mengalami luka akibat lemparan batu yang dilakukan oleh massa yang bersikap anarkis.

Dua pos jaga PT Antam juga dilaporkan mengalami kebakaran, meningkatkan tingkat kerusakan dalam insiden tersebut.

Konflik pertambangan di Konawe Utara bukanlah hal baru. Wilayah ini telah lama menjadi pusat perhatian dan sumber konflik antara kepentingan industri pertambangan dan aspirasi masyarakat lokal.

Protes terhadap PT Antam, perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah ini, seringkali terkait dengan klaim bahwa hak-hak masyarakat tidak terpenuhi dan manfaat ekonomi tidak dirasakan secara adil.

Sementara massa dari Gerakan Rakyat Konut Menggugat menuntut pembukaan kembali blok pertambangan dan memberdayakan pengusaha lokal, PT Antam berpendapat bahwa kegiatan pertambangan memerlukan pemenuhan persyaratan teknis, lingkungan, dan perizinan yang kompleks.

Mereka menekankan perlunya koordinasi yang matang dengan berbagai pihak terkait sebelum mempertimbangkan pembukaan kembali aktivitas pertambangan. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *