PT Kasmar Tiar Raya Disorot Diduga Pengelolaan Tambang yang Buruk, Tanaman Sagu Mati, Sungai Berubah Jadi Lumpur

SULTRA PERDETIK, – Di Kecamatan Batuputih, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, tiga desa, yaitu Desa Lewewawo, Mosiku, dan Tetebo, sedang menghadapi masalah serius akibat buruknya pengelolaan tambang oleh PT Kasmar Tiar Raya (KTR).

Desa-desa yang indah ini telah tercemar dan menderita akibat dampak negatif yang signifikan dari aktivitas tambang yang tidak bertanggung jawab.

Tanaman sagu yang menjadi sumber penghidupan utama warga telah mati karena terendam oleh lumpur limbah tambang yang tebal, sementara sungai-sungai yang dulunya menjadi sumber air bersih sekarang berubah menjadi lumpur berwarna merah kecoklatan.

Bacaan Lainnya

Warga desa yang putus asa telah menyuarakan keluhannya. Busra Yunus, salah satu warga Desa Lewewawo, mengatakan bahwa pemukiman mereka sekarang tercemar oleh limbah tambang, dan mereka hanya berharap agar permukiman mereka kembali bersih seperti sebelum adanya tambang.

Selain itu, dia juga menyoroti kehilangan tanaman sagu yang merupakan mata pencaharian utama bagi penduduk desa tersebut.

Warga desa ini telah berulang kali mengajukan protes mereka, tetapi tampaknya permintaan mereka diabaikan oleh pihak perusahaan.

Bahkan, akibat bekas tambang, tiga kepala keluarga telah terpaksa mengungsi karena rumah mereka terancam longsor.

Nirwan, seorang warga lainnya, menyampaikan bahwa pengelolaan tambang nikel yang dilakukan oleh PT KTR telah menyebabkan kerugian materil dalam jumlah miliaran rupiah bagi warga desa.

Mereka merasa bahwa perusahaan tersebut tidak bertanggung jawab dan membiarkan mereka menderita. Lumpur limbah tambang yang melanda desa telah menghancurkan permukiman dan kebun mereka.

Keadaan semakin parah karena faktanya bahwa lahan perkebunan dan persawahan warga juga tercemar oleh lumpur limbah tambang.

Banyak pemilik lahan yang merasa putus asa karena tanaman mereka menjadi kerdil atau mati, dan bahkan tanahnya sendiri tidak lagi dapat ditanami.

Kepala Bidang Penataan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), Ukkas, menegaskan bahwa penurunan ketinggian dan kemiringan lereng yang tidak memadai dari aktivitas tambang PT KTR menjadi penyebab utama limpahan air lumpur ke pemukiman, perkebunan, dan persawahan warga desa.

Air lumpur ini terus mengalir ke arah timur wilayah IUP perusahaan dan mengarah ke pemukiman warga, menyebabkan kerusakan lingkungan yang semakin parah.

Fakta lain yang menguatkan klaim warga adalah kurangnya efektivitas saluran dan kolam penampungan limbah tambang yang dimiliki oleh PT KTR.

Akibatnya, lumpur meluber ke jalan, lahan pertanian, dan sungai saat hujan, menyebabkan kerugian yang lebih besar.

Selain itu, PT KTR juga dikecam karena belum pernah melaporkan secara periodik pelaksanaan RKL-RPL (Rekomendasi Lingkungan Hidup dan Rencana Pengelolaan Lingkungan).

Padahal, pelaporan tersebut menjadi kewajiban perusahaan sesuai dengan surat kelayakan keputusan lingkungan yang telah dikeluarkan.

Masyarakat Desa Lewewawo dan Mosiku menekankan bahwa PT KTR harus memberikan ganti rugi yang layak atas kerugian yang telah mereka alami akibat lumpur yang melanda lahan pertanian mereka.

Selain itu, mereka juga mendesak perusahaan untuk menghentikan sementara operasinya sampai ada solusi yang ditemukan.

Saat ini, masyarakat desa bersama pemerintah dan aparat penegak hukum berharap dapat bekerja sama untuk mengatasi masalah pencemaran lingkungan ini.

Tindakan tegas dan penegakan hukum yang efektif harus dilakukan untuk melindungi lingkungan dan kehidupan warga desa.

PT KTR harus bertanggung jawab atas dampak negatif yang ditimbulkan oleh aktivitas tambang mereka dan segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memulihkan lingkungan yang tercemar.

Upaya ini akan menjadi langkah penting dalam melindungi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di tiga desa yang terkena dampak ini. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *