Dugaan malpraktik di rumah sakit di Bekasi dilaporkan ke Polda Metro

Dugaan malpraktik pada rumah sakit di tempat Bekasi dilaporkan ke Polda Metro

Jakarta –

Keluarga korban melapor ke Polda Metro Jaya setelah anaknya berinisial BAD (7) diduga menjadi korban malpraktik pada tempat salah satu rumah sakit di tempat tempat Bekasi, Jawa Barat.

 

"Anak ini ada yang mana mengalami yang tersebut itu kami duga gagal penindakan yang tersebut mana mampu jadi kita anggap itu malpraktik ataupun kelalaian ataupun kealpaan," kata pengacara keluarga, Cahaya Christmanto Anak Ampun di tempat area Polda Metro Jaya, Senin.

 

Bacaan Lainnya
Christmanto menjelaskan dalam pelaporan itu ada delapan orang yang mana mana dilaporkan, yakni dr RR, dr L, dr Z, dr WT, dr RI, dr K, dr D (Direktur RS)dan dr F (Manajer Operasional RS).

 

"Itu sudah meliputi dokter yang tersebut mana terkait yang digunakan mana melakukan tindakan, mulai dari dokter anastesi dokter THT, spesialis anak, sampai dengan direktur RS tersebut. Karena ada kaitannya dengan Undang-Undang Perlindungan konsumen," ujarnya.

Christmanto menjelaskan, awal mula kejadian hal hal itu terjadi pada saat operasi amandel dilaksanakan pada Selasa (19/9). Saat itu korban BAD (7) serta kakaknya berinisial J (10) secara bersama-sama menjalani operasi amandel bersama dalam rumah sakit tersebut.

 

Untuk korban A menjalani operasi terlebih dahulu. Akan tetapi, korban tak kunjung sadar setelah operasi tersebut.

Orang tua korban terus menunggu anaknya pulih, namun berjalan 13 hari lamanya sejak operasi dijalankan korban masih terkulai lemas. Akhirnya, pihak dokter mendiagnosis korban A telah lama lama mengalami kondisi berhenti batang otak.

 

"Nah setelah itu kami tunggu-tunggu, lalu di tempat tempat hari setelah hari tiga itu, dokter RS mengatakan bahwa anak ini sudah mengalami berhenti batang otak," katanya.

 

Karena itu pihak keluarga, kata Christmanto, operasi amandel yang digunakan mana dijalani korban berujung pada diagnosa tertutup batang otak. Terlebih saat ini, kondisi korban sangat memperhatikan.

 

"Situasi anak pun enggak bisa saja sekadar ditinggal sebab semakin hari kondisinya semakin kritis. Kedua nafasnya sekarang tinggal satu. Bisanya cuma membuang doang, kalau menghirup dibantu tenaga mesin," katanya.

 

Christmanto menjelaskan, pihak keluarga akhirnya menyebabkan laporan ke Polda Metro Jaya akibat menduga ada malpraktik oleh pihak dokter rumah sakit itu.

 

"Semakin hari semakin kritis juga hingga sampai ini juga pihak RS belum melakukan rujuk. Ini sudah memasuki hari ke-11," katanya.

Dia mengharapkan kembali kepada Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya untuk segera mengambil keputusan ini, mengambil tindakan cepat agar pihak RS memberikan respon yang cepat juga.

 

Dalam laporan yang sudah teregister dengan nomor LP/B/5814/IX/2023/SPKT POLDA METRO JAYA tertanggal 29 September 2023, terlapor dipersangkakan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 Ayat (I) Juncto Pasal 8 Ayat (1) kemudian atau Pasal 360 KUHP dam atau Pasal 361 KUHP juga atau Pasal 438 serta atau Pasal 440 ayat (1) serta (2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

Sumber: Antaranews

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *