RUU pengesahan TPNW setuju dilanjutkan ke rapat paripurna DPR

RUU pengesahan TPNW setuju dilanjutkan ke rapat paripurna DPR
Pagi tadi Indonesia sudah menandatangani Traktat Pelarangan Senjata Nuklir

Jakarta – Komisi I DPR RI bersama Pemerintah menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang pengesahan Treaty on the Prohibition of Nuclear Weapons atau Traktat Pelarangan Senjata Nuklir (TPNW) dilanjutkan ke pembicaraan tingkat II pada rapat paripurna terdekat guna disahkan menjadi undang-undang.

"Apakah Rancangan Undang-Undang tentang pengesahan Treaty on the Prohibition of Nuclear Weapons dapat kita setujui untuk selanjutnya dibawa ke pembicaraan tingkat II pada rapat paripurna untuk disetujui sebagai undang-undang?" kata Wakil Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto yang dimaksud memimpin jalannya rapat kerja pada Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin.

Pertanyaan itu kemudian dijawab setuju oleh seluruh anggota Komisi I DPR RI serta perwakilan Pemerintah yang mana digunakan hadir, yakni Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi, Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Muhammad Herindra, kemudian Dirjen Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham RI Asep N Mulyana.

Bacaan Lainnya

Sebelum persetujuan diambil, seluruh fraksi sudah pernah menyampaikan pendapat akhir mini fraksi masing-masing terlebih dahulu. Sembilan fraksi di dalam area parlemen lantas menyatakan setuju agar RUU tentang pengesahan TPNW dibawa ke rapat paripurna untuk disahkan menjadi undang-undang.

"Tadi pendapat akhir mini fraksi sudah dibacakan, semuanya setuju dengan catatan-catatan," ucap Utut.

Pada kesempatan hal hal tersebut dilaksanakan pula persetujuan terhadap daftar inventarisasi permasalahan (DIM) RUU tentang pengesahan TPNW menyangkut dua pasal, yakni Pasal 1 RUU tentang TPNW yang tersebut berbunyi "Mengesahkan Treaty on the Prohibition of Nuclear Weapons (TPNW) yang digunakan mana telah dilakukan lama ditandatangani Pemerintah RI pada tanggal 20 September 2017 pada tempat New York, Amerika Serikat".

Kemudian, Pasal 2 RUU tentang TPNW yang tersebut berbunyi "Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan".

Adapun di tempat area awal, Menlu Retno memaparkan bahwa nilai utama TPNW ialah menegaskan bahwa kepemilikan senjata nuklir tak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun, termasuk meluruskan pandangan yang tersebut dimaksud keliru bahwa kepemilikan nuklir dianggap prestise negara.

"TPNW juga ditujukan untuk melengkapi kelemahan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), di dalam dalam mana NPT membedakan kelompok negara yang mana mana boleh kemudian juga bukan boleh miliki senjata nuklir, sementara TPNW memberikan hak lalu kewajiban hak yang dimaksud mirip bagi seluruh pihak," kata Retno.

Selain Traktat NPT, dia menjelaskan bahwa pengesahan TPNW akan melengkapi pula ratifikasi dua instrumen multilateral lain yang mana dimaksud sudah dikerjakan diratifikasi oleh Indonesia yaitu Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji Coba Nuklir (CTBT), lalu Traktat Kawasan Bebas Senjata Nuklir dalam Asia Tenggara (SEANWFZ).

Retno menyebut bahwa TPNW diberlakukan pada 22 Januari 2021 dan juga juga sampai sekarang telah dilakukan lama ditandatangani oleh 93 negara, dengan 69 pada area antaranya telah lama lama melakukan ratifikasi terhadap traktat tersebut.

Sebelumnya pada 20 September 2017, Indonesia bersama puluhan negara lain pada dunia menandatangani Traktat Pelarangan Senjata Nuklir (TPNW) pada Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di dalam area New York, Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menandatangani traktat tentang pelarangan senjata nuklir yang mana untuk pertama kalinya dalam dunia mengikat secara hukum.

"Pagi tadi Indonesia sudah menandatangani Traktat Pelarangan Senjata Nuklir," ungkapnya.

Traktat yang diadopsi pada 7 Juli 2017 pada Konferensi PBB pada area New York, meraih dukungan 120 negara dari 193 negara anggota PBB.

TPNW memuat kumpulan larangan untuk berperan serta dalam segala kegiatan terkait senjata nuklir, termasuk larangan untuk mengembangkan, menguji, memproduksi, mendapatkan, memroses, menimbun, menggunakan atau mengancam untuk menggunakan senjata nuklir.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *